Shadow

© Drabble by Lollicino

Starring Dongwoon and Junhyung of BEAST

https://diaryoffanfiction.files.wordpress.com/2013/08/455d0-20120124_dongwoon_iknewit3.jpg

“Jangan mencintaiku lebih dalam, atau semakin dalam juga pahitnya.”

“Berhenti.”

Satu kata terucap oleh bibir seorang Yong Junhyung, dingin dan datar. Namun begitu menusuk Dongwoon, menyadarkannya pada dunia yang memiliki sebuah batasan yang tak bisa dilewati.

Dongwoon tak bereaksi, masih menatap dingin kearah Junhyung. Tatapannya tak menyiratkan apapun, hanya beberapa rangkai kata yang kemudian terucap oleh bibir Dongwoon,

“Bukan urusanmu, Junhyung. Aku masih mencintainya.”

“Bahkan kau tidak akan bisa meraihnya, Son Dongwoon. Sadarlah.”

Dongwoon mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

Mungkin menerima ajakan Junhyung untuk bertandang ke cafe dekat apartemen Dongwoon adalah hal yang salah. Seharusnya Dongwoon mengatakan tidak, seharusnya Dongwoon bisa menebak kalau pria didepannya ini pasti akan membahas tentang dirinya. Tidak masalah, tapi, ayolah, Junhyung bukan siapa-siapa Dongwoon. Hanya teman. Tapi inilah Son Dongwoon, si pria yang sok tau dan keras kepala.

Dia memutuskan untuk pergi, beranjak dari cafe meninggalkan Junhyung dan menaiki mobilnya, mengemudikannya kemana saja. Pokoknya Dongwoon ingin pergi dari Junhyung, dan kalau bisa dia ingin menemukan gadisnya yang sudah hampir seminggu tak ditemuinya.

“Sujin… sudah tidak mencintaimu.”

Rasanya ingin Dongwoon mengobok isi otaknya, dan mengeluarkan segala memorinya tentang ucapan Junhyung. Kalau saja bisa, karena Dongwoon kini merasa campur aduk. Junhyung tak pernah bohong, tapi dia tidak boleh mengabaikan seorang Baek Soojin begitu saja.

Setelah melewati beberapa argumen dengan dirinya, Dongwoon memutuskan untuk menelpon Soojin. Beberapa kali tidak diangkat, sampai akhirnya Soojin mengiriminya pesan suara,

Temui aku ditempat biasa. Cepat, waktuku tak banyak.

Maka Dongwoon langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, membiarkan mobilnya melaju seperti babi lepas melintasi jalanan Seoul tidak terlalu ramai. Suara Soojin terdengar sangat serius, dan hal itu membuat Dongwoon merasa cemas. Kalau ternyata ucapan Junhyung benar…

… bahkan Dongwoon belum siap sama sekali untuk melepasnya.

.

.

.

“Tepat waktu,”

Soojin duduk disana, disebuah kursi kayu yang cukup panjang. Semilir angin malam membelai wajah Soojin, dan menerbangkan helai rambut hitamnya. Mata Soojin berair, tidak seperti biasanya.

Dongwoon tidak duduk. Dia memilih untuk berdiri, menatap lekat-lekat seorang Baek Soojin yang sudah dua tahun mengisi harinya, bagian hatinya yang kosong. Menggetarkan dunianya, membuatnya mengenal satu kata bernama ‘cinta’. Memabukkan, dan Dongwoon menyukainya.

Tapi Dongwoon tak pernah berpikir kalau akhirnya hal itu akan menyakitinya tanpa ampun.

“Soojin,” Dongwoon menyebut namanya, dia hanya ingin melakukannya. Dongwoon berjalan mendekat, duduk disamping gadis itu, merengkuhnya dengan kuat. Walau Dongwoon ingin mengabaikannya, hal itu tetap terasa. Soojin terasa semakin ringkih, pelukannya semakin melemah. “Jangan pernah tinggalkan aku,” akhirnya Dongwoon berucap dengan bergetar.

“Jangan…” Soojin menelan ludahnya susah payah, “…biarkan cinta itu semakin dalam, Dongwoon. Maaf, tapi… aku tidak bisa.”

Look forward to the future. Don’t you ever turn back, or it’ll be hurt.” kata Soojin. Soojin melepaskan pelukan Dongwoon, menatap pria itu lekat-lekat. Dia mendekatkan bibirnya pada telinga Dongwoon, membisikkan sesuatu yang Dongwoon benci,

Jangan mencintaiku lebih dalam, atau semakin dalam juga pahitnya. Aku harus pergi.”

Dan Soojin melenggang pergi begitu saja, meninggalkan Dongwoon.

Dongwoon tak dapat mengejarnya lagi, sampai kapanpun. Soojin sudah menghilang, begitu cepat dan bahkan Dongwoon tak menyadarinya. Ketika Dongwoon mendongak, cahaya bulan menerpa wajahnya yang sudah dibasahi air mata. “Kenapa?” lirihnya.

Seharusnya Dongwoon banyak mendengarkan Junhyung. Seharusnya Dongwoon tidak pernah mengabaikan Junhyung. Seharusnya Dongwoon tak jatuh cinta lagi kepada Soojin, supaya sakitnya tidak sepahit ini. Dongwoon bahkan belum menyiapkan dirinya sama sekali, dan Soojin meninggalkannya begitu saja. Dan seharusnya… Dongwoon belajar menerima kenyataan sedari dulu. Menerima kenyataan bahwa dia tidak akan bisa bersatu lagi dengan Soojin, karena Soojin hanyalah bayangan sekarang. Bayangan yang menghantui hidupnya.

Bahkan Soojin sudah mati setahun yang lalu. Seharusnya Dongwoon sadar akan hal itu.

END

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s