Late

Title     : Late

Author : lollicino

Cast     : Byun Baek Hyun ( EXO)

Minor  : find it by yourself

Length : oneshot, maybe?

Rating  : PG-13

===

A love?

I’ve never feeling this feel before

Hearbeat

Every time I see her, my heartbeat is not normal

Is it love?

= = =

Aku memerhatikan seluruh penjuru kota Seoul melalui ketinggian Namsan Tower. Kuhirup udara segar yang ada di sekitarku, berusaha untuk melepaskan penat yang sedari tadi menempel dalam diriku.

Kuperhatikan langit kota Seoul yang sudah gelap. Kulirik arlojiku. Sudah hampir jam 11 malam. Beruntung besok adalah hari bebas, aku bisa pulang kapan saja.

[DDRRRTT DRRTTT]

Kuraih iPhone-ku yang bergetar dalam saku jaketku. Kutatap layar iPhone-ku. Ujung bibirku naik, membentuk senyuman. Dia menelponku, gadisku menelponku. Apa dia mengkhawatirkanku? Sekhawatir apa dia? Bukankah ini adalah jam tidurnya?

Setumpuk pertanyaan hinggap di otakku. Aku kembali memasukkan iPhone-ku ke dalam saku jaketku, lalu menikmati angin yang bertiup sepoi-sepoi.

“ Sudah kuduga kau ada di sini, BaekHyun. “ panggil sebuah suara. Suara yang sudah kuhapal di luar kepala. Suara yang tiap intonasinya sangat merdu seperti dentingan lonceng. Aku berbalik, dan melihatnya berdiri disana sambil menatapku.

“ BYUN BAEKHYUN ! “ dia mendekatiku dan memukul-mukul lenganku dengan tangannya. Aku meringis dan berusaha menghindar dari pukulan mautnya itu.

“ Sakit bodoh! “ ringisku sambil mengusap-usap lenganku. Kurasa lain kali aku harus melindungi diriku dengan baju perang.

“ Kau yang bodoh, Hyun-ie. Kau tahu seberapa khawatirnya aku, karena orang tuamu bilang kau belum pulang sejak jam pulang sekolah kita berakhir ? “ semburnya, “ Dan kau tahu sedingin apa udara di Namsan Tower? Aku terlalu khawatir, sampai aku lupa membawa jaketku. “ lanjutnya.

Kulihat dia hanya menggunakan tank top hitam dan celana tidur selutut. Aku tersenyum, lalu membuka jaketku dan memakaikan jaketku padanya. Aku memeluknya dari belakang.

“ Seberapa khawatirnya dirimu, eoh? Sampai outfit yang tidak pernah kau lupakan itu tertinggal? “ tanyaku. Aku memegang bahunya. Dan menatapnya.

[DEG DEG DEG DEG DEG]

Rasa ini lagi. Belum 3 detik aku melihatnya, jantungku sudah bereaksi secara berlebihan. Setiap inci wajahnya menambah kecepatan detak jantungku, membuat jantungku tidak normal. Mata coklatnya yang hangat, dan bibirnya. Bibirnya kecil dan tebal. Apa sudah ada orang yang menyentuh bibir itu pertama kali? Kuharap tidak. Beruntung aku bisa menahan diriku untuk tidak menciumnya.

“ Aku sangat khawatir, Hyun-ie. Besarnya rasa khawatirku, seperti rasa hawatirku terhadap pacarku sendiri. “ dia tersenyum.

Sial. Dia membuatku diam tak berkutik lagi dengan kata-katanya.

“ Kenapa bisa seperti itu? “

“ Karena kau adalah temanku yang paling kusayangi. Karena kau adalah satu nama dari sekian nama yang termasuk dalam list orang yang berharga dalam hidupku. “ jawabnya. Aku terdiam menanggapinya.

Setidaknya aku masuk ke dalam list orang paling berharga dalam hidupmu. Walaupun jabatanku hanyalah sebagai sahabat dalam list-mu.

= = =

A love?

How was it feels?

It feels like finding your real happiness

Every time I see her, I feel happy

Every time I see her, all my sorrow like disappeared

Is it love?

= = =

Aku memainkan tuts tuts piano di depanku dengan pelan, melanturkan sebuah lagu yang menurutku sangat tepat dengan suasana hatiku sekarang. Love Story, salah satu lagu favoritku, yang sedang kumainkan sekarang.

[CKLEK]

Permainanku berhenti ketika kudengar pintu ruangan ini terbuka. Aku menoleh, dan mendapati dirinya berdiri di sana. Aku menghela nafasku, lalu kembali menatap tuts-tuts piano yang terjajar di depanku.

“ Masalah apalagi sekarang, eoh? Adikmu sakit? “ kudengar langkahnya mulai mendekat ke arahku. Dia duduk di sampingku. Aku menatapnya.

“ Bagaimana kau bisa tahu? “ tanyaku. Perlahan-lahan rasa sedih di hatiku mulai pudar karena kehadirannya. Dia menunjukkan senyuman manisnya.

“ Kau selalu bermain piano saat sedih. Terutama, saat adikmu sedang sakit, kau selalu memainkan lagu Love Story. Itu kebiasaanmu. “ dia menyodorkan sesuatu kepadaku.

Ice cream vanilla.

“ Aku membelinya tadi di toko ice cream favorit kita. Makanlah. Bukankah vanilla adalah hal yang bisa menghilangkan kesedihanmu? “ ucapnya. Aku meraih cup ice cream itu dan memakannya.

Salah. Kalau kau bilang hal yang dapat menghilangkan rasa sedihku adalah ice cream, itu salah. Rasa sedihku hilang ketika aku melihat wajahmu. Wajah malaikatmu seakan-akan seperti sebuah penghilang rasa sedih yang kurasakan. Vanilla hanyalah ice cream favoritku sejak kecil. Kalau kau menyimpulkan kesedihanku hilang karena vanilla, itu salah. Kau lah yang menghilangkan semua rasa sedihku.

“ Sudah baikan? “ tanyanya, dan aku mengangguk. Wajahnya berbinar.

“ Kalau begitu aku punya request. Mainkan lagu River Flows In You untukku. “ dia menunjukkan puppy eyes nya. Aku tersenyum melihatnya.

“ Baiklah. Tapi bantu aku menghabiskan ice cream ini, baru aku mau memainkannya untukmu. Buka mulutmu. “ kusodorkan sesendok ice cream kepadanya. Dia membuka mulutnya dan memakannya. Aku menyendok ice cream itu dan memakannya.

Bukankah bertukar sendok seperti ini sama artinya dengan… ciuman secara tidak langsung?

Kata-kata itu melekat di otakku. Artinya… aku dan dia… telah berciuman… secara tidak langsung. Aku tersenyum dan melajutkan acara ‘ciuman tidak langsung’ ini dengannya.

“ Kau memang teman terbaik yang ada dalam hidupku, Hyun-ie. “ ucapnya.

Aku tahu itu.

= = =

Every single time we’ve spent

It’s a beautiful memory

I can’t forget about that, no matter what

            Aku hanya mengikuti dia yang terus menerus menarik tanganku. Kini kami berada di Everland, tepatnya di kota YongIn, provinsi Gyeonggi-do. Ini adalah hari libur, dan orang tua kami mengizinkan kami berjalan-jalan berdua.

Bisa kalian bayangkan?

BER-DU-A.

Entah seperti apa detak jantungku, aku sendiri tidak bisa merasakannya. Ini terlalu ekstrem untukku, mungkin.

“ Hyunie-ah, bagaimana kalau kita bermain roller coaster saja? “ tanyanya sambil menunjuk roller coaster yang sedang berjalan dengan kecepatan kilat.

“ Tapii… “ aku berusaha untuk mencari alasan. Aku sangat penakut, apalagi pada ketinggian.

“ Kau takut? Tenang saja Hyun-ie! Aku kan duduk di sampingmu… sekarang ayo! Kita bermain roller coaster. “dia mendoro punggungku.

Astaga. Ya Tuhan, aku masih ingin hidup dengan detak jantung yang normal. Apa yang tadi diucapkannya? Kata-katanya berhasil membuatku meleleh, kurasa.

= = =

Hampir semua permainan kami mainkan disini. Dan disinilah kami, duduk di dalam café karena diluar sedang hujan. Kulihat dia terus menggosok tangannya, lalu menempelkannya di pipinya.

“ Kau kedinginan? “ tanyaku dan dia mengangguk. Memang, saat ini sedang musim hujan, dan dia lupa membawa jaketnya karena cuaca tadi pagi sangat panas. Dan aku tidak mungkin memberikan jaketku, karena aku juga kedinginan.

“ Kemarilah. Duduk di sampingku. “ aku menepuk kursi di sebelahku. Dia tampak ragu, tapi dia tetap duduk di sampingku. Aku membuka kancing jaketku, dan berbagi jaket dengannya.

“ Terima kasih, Hyun-ie. Aku sudah merasa lebih hangat sekarang. “ ucapnya. Dia memeluk pinggang ku, dan menyenderkan kepalanya di bahuku.

Kalau boleh, aku ingin berdoa, agar aku dapat merasakan moment ini lebih lama dengannya. Kalau bisa, aku berharap waktu berhenti dan tidak pernah berjalan, agar aku tetap merasakan pelukannya ini.

Itu harapanku.

= = =

I’m too weak

I’m too embarrassed

To tell her the truth

That I love him

And now…

It’s too late to say it

Regrets always come later, right?

            Aku menatap nanar dirinya. Dengan seluruh kesusah-payahanku, aku menahan air mataku agar tidak turun di depannya. Aku terlambat mngatakannya. Karena aku terlalu pengecut untuk sekedar mengungkapkannya. Ya. Aku tahu aku bodoh.

“ Jadi… kapan kau pergi ke Kanada? “ tanyaku, berusaha memecah keheningan diantara kami. Dia memainkan kuku-kuku panjangnya.

“ Lusa. Appa dan eomma akan pindah ke Paris. Tapi aku akan melanjutkan sekolahku ke Kanada. “ jawabnya sambil menunduk. Aku meraih dagunya dan mengangkatnya, memaksanya untuk menatapku.

Matanya berair. Entah setan apa yang merasukiku, hingga aku berani menghapus air matanya. Aku menunjukkan senyumku, seakan-akan aku senang karena mimpinya akan terwujud. Walaupun hatiku berteriak, berteriak memanggil namanya, dan memohon agar dia tidak pergi jauh dariku.

“ Aku…pasti akan sangat merindukanmu. “ dan akan sangat sengsara karena kau akan meninggalkanku, “ Aku harap kau bisa meneruskan cita-citamu. Jangan terlalu sedih. “ walaupun nantinya aku yang akan terus mengeluarkan air mataku karena kepergianmu. “ Kau tahu? Sebenarnya… “ aku mencintaimu sejak kita pertama bertemu. Kalau kau bilang kenapa aku tidak mengatakannya dari jauh-jauh hari, karena aku terlalu pengecut, “ Aku tidak suka melihatmu menangis. Maka itu jangan menangis. Teruslah tersenyum. “ ucapku. Dia menghapus air matanya dan tersenyum getir.

Aku meraih sesuatu dalam tasku, lalu menariknya keluar dari dalam tasku. Kotak berwarna hitam. Aku membuka kotak itu, dan melihat isinya. Sebuah cincin emas putih, dan mata cincin yang terbuat dari permata berbentuk kotak berwarna biru laut. Ini adalah cincin yang sudah lama ingin kuberikan kepadanya, sejak pertama kali aku menyukainya, tepatnya 3 tahun lalu. aku mengambil cincin itu dan memasangkannya di jari manisnya.

“ Kalau kau merindukan aku, lihatlah cincin ini. Cincin ini adalah tanda pertemanan kita. “ dan tanda cintaku padamu yang ingin kusampaikan 3 tahun yang lalu, “ Jangan hilangkan ya? Aku merancang cincin itu sendiri, walaupun bukan aku yang memahatnya. “ aku tersenyum padanya. Dia terus menatap cincin itu.

“ Cantik. “ gumamnya. Dia menatapku, membuatku terpaku. Dia mendekatkan wajahnya dengan wajahku, sehingga aku bisa merasakan deru nafasnya di wajahku.

[CUP]

Dia yang memulainya. Memulai pertautan bibir kami. Dia melumat bibirku dengan lembut. Aku masih diam tidak membalas lumatannya, berusaha mencerna semuanya.

‘ Byun BaekHyun bodoh. Dia menciummu, dan kau hanya diam? ‘ rutukku dalam hati.

Aku menarik pinggangnya mendekat denganku. Aku balas melumat bibirnya dengan lembut. Dia membuka mulutnya, membiarkan lidahku masuk dan mengabsen giginya. Dia mengalungkan tangannya di leherku, menarik leherku, memperdalam ciuman kami. Aku memeluk pinggangnya lebih erat.

Kurasakan sesuatu yang asin mengenai lidahku. Aku membuka mataku, dan melihatnya menangis. Aku melepaskan pertautan kami, lalu kuhapus air matanya.

“ Jangan lupakan ciuman itu, Hyun-ie. “ dia mengecup bibirku sekilas, lalu berdiri, hendak meninggalkanku, “ Saranghae “ lanjutnya.

Dan saat itu aku benar-benar lupa bagaimana caranya bernafas.

= = =

Aku memeluk lututku, membiarkan air hujan terus membasahiku. Kuhiraukan iPhone-ku yang sedari tadi berdering. Aku tau itu eomma atau Hana, adikku. Wajar mereka menelponku karena cemas, aku sudah meninggalkan rumah selama 2 hari tanpa memberi kabar.

Kutatap air hujan yang terus turun. Aku menangis sekencang-kencangnya, membiarkan air mataku bersatu dengan air hujan.

Aku menyesal. Ya. Aku benar-benar menyesal. Menyesal karena aku tidak mengucapkan semuanya 3 tahun yang lalu. Tidak mengejar dan menghentikannya saat dia menaiki pesawat yang akan membawanya menjauh dariku itu. Dan menyesal, karena tidak menyadari kalau dia mencintaiku. Aku menyesal. Sangat menyesal.

Kalau boleh, aku ingin mengulang semuanya dari awal. Dari pertemuan kami 3 tahun yang lalu. agar aku tidak merasakan ini semua. Walaupun aku tahu, itu semua hanyalah harapan mustahil untukku.

Aku menyentuh bibirku. Aku masih ingat, saat itu dia yang mulai menciumku, tepat 2 hari sebelum kepergiannya. Rasa manis bibir itu masih tertinggal di bibirku. Aku menunduk, membiarkan air mataku keluar lebih deras.

Saranghae…

Suara itu kembali terngiang di kepalaku. Seulas senyuman tergores di wajahku.

Yeongwonhi saranghamnida, Park YongRi. “ gumamku.

= = =

A love?

I’ve never feeling this feel before

Hearbeat

Every time I see her, my heartbeat is not normal

Is it love?

A love?

How was it feels?

It feels like finding your real happiness

Every time I see her, I feel happy

Every time I see her, all my sorrow like disappeared

Is it love?

Every single time we’ve spent

It’s a beautiful memory

I can’t forget about that, no matter what

I’m too weak

I’m too embarrassed

To tell her the truth

That I love him

And now…

It’s too late to say it

Regrets always come later, right?

When we kissed

My hearbeat is not normal

Is it love?

Yes. It is love. Our love.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s